BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seperti yang telah
kita ketahui sebelumnya bahwa secara umum ada tiga gugus yang reaktif pada asam
amino yaitu gugus karboksil, gugus amino, dan gugus rantai samping. Ketiga
gugus ini dapat diidentifikasi melalui uji spesifik, diantaranya adalah dengan
melalui tes ninhydrin, dan sebagainya. Akan tetapi, selain uji spesifik
berdasarkan ciri khas reaksi kimianya, asam amino dapat pula diidentifikasi
bahkan dipisahkan dengan beberapa metode, salah satunya adalah melalui kromatografi
lapis tipis (KLT).
Pemisahan asam
amino dengan metode ini didasari oleh kemampuan suatu jenis asam amino yang
terlarut dalam suatu campuran pelarut tertentu pada fasa stasioner atau yang
lazim disebut sebagai fasa diam, dimana bila suatu zat terlarut yang
terdistribusi dalam dua pelarut dengan volume yang sama dan tidak saling
bercampur sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut di dalam kedua pelarut
seimbang.
Pada kromatografi
lapis tipis, yang digunakan sebagai fasa stasioner adalah suatu lembaran tipis
silika gel. Untuk memperoleh pemisahan asam amino yang baik, dapat digunakan
dua fase pelarut, dimana setiap jenis asam amino mempunyai koefisien partisi
tertentu untuk pasangan pelarut tertentu. Perbandingan kecepatan perpindahan komponen
dengan permukaan fasa mobile merupakan dasar untuk mengidentifikasi
komponen-komponen yang dipisahkan. Oleh karena itu melalui percobaan ini akan
dilakukan analisis asam amino dengan menggunakan metode kromatografi lapis
tipis.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1
Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara pemisahan dan
identifikasi asam amino dalam suatu sample melalui metode kromatografi lapis
tipis.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu
1. Menghitung nilai Rf dari asam amino
alanin, histidin dan larutan sampel
2. Menentukan jenis asam amino yang
terkandung dalam suatu sampel.
1.3 Prinsip Percobaan
Identifikasi asam amino berdasarkan perbedaan nilai Rf
dengan menggunakan metode kromatrografi lapis tipis yang fase geraknya terdiri
dari campuran n-butanol, asam asetat dan air, sedangkan fase diamnya adalah plat KLT yang merupakan lempeng aluminium
yang dilapisi dengan zat padat, umumnya adalah aluminia, silika gel, dan
selulosa.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Asam amino adalah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam amino
yang terdapat sebagai komponen protein mempunyai gugus –NH2 pada atom karbon α dari posisi gugus –COOH. Dari rumus umum
tersebut dapat dilihat bahwa atom karbon α ialah atom karbon asimetrik, kecuali
bila R ialah atom H. Oleh karena itu asam amino juga memiliki sifat memutar
bidang cahaya terpolarisasi atau aktivitas optik. Rumus molekul dapat
digambarkan dengan model bola atau batang dengan rumus proyeksi Fischer. Oleh
karena atom karbon itu asimetrik, maka molekul asam amino mempunyai dua
konfigurasi D dan L. Hal ini dapat dibandingkan dengan konfigurasi molekul
monosakarida (Poedjiadi, 1994).
Semua asam amino yang ditemukan pada protein mempunyai
ciri sama, gugus karboksil dan gugus amino diikat pada atom karbon yang sama.
Masing-masing berbeda satu dengan yang lain pada rantai sampingnya, atau gugus
R, yang bervariasi dalam struktur, ukuran, muatan listrik, dan kelarutan di
dalam air. Ke-20 asam amino pada protein seringkali dipandang sebagai asam
amino baku, utama, atau normal, untuk membedakan molekul-molekul ini dari
jenis-jenis asam amino lain yang ada pada organisme hidup, tetapi tidak
terdapat di dalam protein. Asam amino baku dapat dinyatakan dengan singkatan
tiga huruf atau lambang satu huruf, yang digunakan sebagai cara ringkas untuk
menunjukkan komposisi dan urutan asam amino di dalam rantai polipeptida
(Lehninger, 1982).
Suatu peptida adalah senyawa yang dibentuk dari asam α-amino yang terikat
oleh suatu ikatan peptida. Asam-asam amino dalam peptida disebut sebagai unit
peptida atau residu asam amino. Suatu peptida yang dibentuk dari dua residu
asam amino dipeptida, sedangkan bila dari tiga residu asam amino disebut
tripeptida. Suatu polipeptida adalah suatu peptida dengan banyak residu asam
amino. Perbedaan antara suatu polipeptida dengan protein adalah berdasarkan
perjanjian, umumnya suatu polipeptida dengan 50 residu asam amino disebut
sebagai protein. Asam amino mempunyai sebuah asam karboksilat dan gugus α-amino
dalam sebuah molekul. Akibatnya, suatu asam amino akan mengalami reaksi asam
basa dalam molekulnya, untuk membentuk suatu ion dipolar, yaitu suatu ion yang
mempunyai muatan positif dan negatif. Ion dipolar disebut juga sebagai zwitter
ion. Suatu ion dipolar mempunyai muatan positif dan negatif sehingga muatan
listriknya netral. Walaupun netral, tetapi ion dipolar masih merupakan senyawa
ion. Terlihat dari sifat-sifat fisiknya, misalnya: titik didihnya tinggi, dapat
larut dalam air, tetapi hampir tidak larut dalam pelarut organik. Sifat-sifat
ini tidak ada bila ion dipolar tidak memiliki muatan ion (Fessenden dan
Fessenden, 1997).
Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut
dalam pelarut organik non polar seperti pada eter, aseton dam kloroform. Sifat
asam amino ini berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan asam amino. Asam
karboksilat alifatik maupun aromatik yang terdiri atas beberapa atom karbon
umunya kurang larut dalam air tetapi larut pelarut organik (Poedjiadi, 1994).
Asam amino yang diperoleh dari larutan hidrolisis
protein adalah asam amino α. Artinya, gugus amino berada pada atom karbon α,
yaitu disebelah gugus karboksil. Kecuali glisin, dengan R = H, asam amino α
memiliki pusat stereogenik pada karbon α. Dengan demikian, semua asam amino α
kecuali glisin bersifat aktif opti (Hart,
dkk., 2003).
Gugus amino diprotonasi dan hadir
sebagaiion amonium, sedangkan gugus karboksil kehilangan protonnya dan hadir
sebagai ion karboksilat. Struktur dipolar ini konsisten dengan sifat asam amino
yang seperti garam, yang memiliki titik leleh yang agak tinggi (bahkan yang
paling sederhana, glisina, meleleh pada suhu 233°C) dan kelarutannya dalam
pelarut organik relatif rendah). Asam amino bersifat amfoterik, artinya
berperilaku sebagai asam dan mendonasikan proton pada basa kuat, atau dapat
juga berperilaku sebagai basa dan menerima proton dari asam kuat. Perilaku ini
dinyatakan dalam kesetimbangan berikut untuk asam amino dengan satu gugus amino
dan satu gugus karboksil (Hart dkk., 2003).
Ada beberapa metode
analisis asam amino, misalnya metode gravimetrik, kalorimetri, mikrobiologi,
kromatografi, dan elektroforesis. Salah
satu metode yang paling banyak memperoleh pengembangan adalah metode
kromatografi. Macam-macam
kromatografinialah kromatografi kertas, kromatogrfi lapis tipis, dan
kromatografi penukar ion (Poedjiadi, 1994).
Kromatografi kertas, merupakan salah satu jenis
kromatografi partisi, yaitu pemisahan beberapa zat berdasarkan perbedaan
kelarutan dalam dua pelarut yang tidak dapat bercampur. Cara melakukan pemisahan
dengan kromatografi ini cukup sederhana. Campuran beberapa asam amino sebagai
hasil hidrolisis diteteskan sedikit demi sedikit pada kertas kromatografi pada
pada titik tertentu (A) dan kemudian ujung kertas dicelupkan ke dalam pelarut
tertentu. Pelarut ini akan naik berdasarkan proses kapilaritas dan akan membawa
senyawa-senyawa dalam campuran dalam campuran tersebut. Asam amino yang mudah
larut dalam pelarut tertentu itu, misalnya pelarut organik, akan terbawa naik
lebih jauh daripada yang sukar larut. Setelah pelarut mencapai bagian atas atau
garis akhir, kertas diangkat dari pelarut kemudian dibiarkan kering dengan
sendirinya di udara. Dengan proses ini asam-asam amino akan terpisah satu
dengan yang lain, dengan penyemprotan pereaksi ninhidrin pada kertas
kromatografi tersebut kan tampak noda-noda biru yang membuktikan adanya asam
amino yang terpisah itu. Jarak yang telah ditempuh oleh suatu asam amino
tertentu (b), dibandingkan dengan jarak yang ditempuh oleh suatu pelarut dari
garis awal hingga garis akhir (a) diberi lambang Rf. Harga Rf
yaitu b/a merupakan ciri khas suatu asam amino pada pelarut tertentu. Dengan
menggunakan standar asam-asam amino yang telah diketahui macamnya pada
kromatografi kertas seperti yang telah dilakukan di atas, dapat diketahui macam
asam amino yang diperiksa. Penentuan macam asam amino dapat pula dilakukan
dengan menghitung harga Rf asam amino yang terdapat pada tabel yang
ada (Poedjadi, 1994).
Teknik kromatografi
lapis tipis (KLT) dikembangkan olen Egan Stahl dengan menghamparkan penyerap
pada lempeng gelas, sehingga merupakan lapisan tipis. KLT merupakan
kromatografi serapan, tetapi dapat juga merupakan kromatografi partisi karena
bahan penyerap telah dilapisi air dari udara. Sistem ini segera populer karena
memberikan banyak keuntungan, misalnya peralatan yang diperlukan sedikit,
murah, sederhana, waktu analisis cepat dan daya pisah yang cukup baik. Sebagian besar dasar teori kromatografi kolom
juga dapat diterapkan pada KLT. Konsep “lempeng teori” lebih sukar digambarkan
di sini, tetapi jelaslah bahwa pemisahan itu dilakukan oleh keseimbangan
bermuatan cuplikan dalam dua fasa, satu diantaranya bergerak terhadap yang
lainnya. Terjadi proses penyebaran molekul cuplikan karena proses nonideal.
Derajat retensi pada kromatografi lempeng biasanya dinyatakan sebagai faktor
retensi, Rf.
Jarak yang tempuh pelarut dapat diukur dengan mudah dan jarak tempuh
cuplikan diukur pada pusat bercak itu, atau pada titik kerapatan maksimum.
Definisi koefisien distribusi K adalah perbandingan dengan kadar senyawa
tersebut dalam fasa gerak Cm dan kadar senyawa terlarut dalam fasa
diam Cs,,
K = Cs / Cm
Fasa diam
Pada semua prosedur
kromatografi, kondisi optimum untuk sebuah pemisahan merupakan hasil kecocokan
antara fasa diam dan fasa gerak. Dalam KLT, fasa diam harus mudah didapat,
keistimewaan KLT adalah lapisan tipis fasa diam dan kemampuan pemisahannya.
Fasa gerak
Pada proses serapan, yang
terjadi jika menggunakan silika gel, alumina dan fasa diam lainnya, pemilihan
pelarut mengikuti aturan kromatografi kolom serapan. Jika fasa gerak digunakan
sistem pelarut campuran, pada fase diam susunan pelarut itu dapat mengalami
perubahan sedikit demi sedikit. Suatu pendekatan yang menarik terhadap
penggunaan campuran azeotrop, misalnya metanol – aseton (12 : 88), metanol –
benzena (31,7 : 68,3) metanol – sikloheksana – metilasetat (17,8 : 33,6 : 48,6)
hal ini mempengaruhi kualitas pemisahan dan kedapat – ulangnya adalah kejenuhan
bejana pengembang (Soedjadi, 1988)
TLC digunakan untuk
memantau kemajuan reaksi dan untuk mengenali komponen tertentu. Teknik ini sering dilakukan dengan lempengan
gelas atau plastik yang dilapisi fase diam. Fase gerak cair adalah pelarut. Campuran yang akan dianalisis diteteskan pada
dasar lempengan, dan pelarut akan bergerak naik oleh gaya kapiler (Bresnick,
2004).
Analisi asam amino
ditentukan oleh tipe asam amino dan berapa banyak penyusun protein. Hanya komposisi asam amino yang ditentukan,
bukan deret residu asam aminonya.
Analisis asam amino dapat dibagi menjad empat langkah dasar :
1.
Hidrolisis suatu asam amino
menjadi konstituen asam amino tersendiri.
2.
Menandai asam amino dengan
deteksi serapan UV atau penghasil flouruesen.
3.
Memisahkan jenis asam amino
yang berbeda dengan kromatografi.
4.
Mengukur banyak relatif tiap
asam amino pada intensitas pada penghasil deteksi yang bergabung dengan asam
amino dari sistem kromatografi.
Banyak pengembangan yang telah
dilakukan beberapa tahun belakangan ini
untuk meningkatkan teknik analisis asam amino. Diantaranya sistem kromatografi penukar ion
telah dioptimalkan dengan merubah karakter resin, ukuran kolom, suhu kolom, pH
bufer dan ion kuat untuk meningkatkan resolusi
(pemisahan kromatografi) dan menurunkan sample (lebih sensitif) (Page,2010).
KLT dapat digunakan untuk memisahkan
senyawa – senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida – lipida dan
hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat
berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom, analisis fraksi yang
diperoleh dari kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara kromatografi,
dan isolasi senyawa murni skala kecil. Pelarut yang dipilih untuk pengembang
disesuaikan dengan sifat kelarutan senyawa yang dianalisis. Bahan lapisan tipis
seperti silika gel adalah senyawa yang tidak bereaksi dengan pereaksi –
pereaksi yang lebih reaktif seperti asam sulfat (H2SO4)
(Anonim, 2010).
Proses berikutnya dari kromatografi lapis tipis adalah
tahap visualisasi.
Tahapan ini sangat penting karena diperlukan suatu keterampilan dalam memilih metode yang tepat karena harus disesuaikan dengan jenis sampel yang
sedang diuji. Salah
satu yang dipakai adalah penyemprotan dengan larutan ninhidrin. Ninhidrin (2,2-Dihydroxyindane-1,3-dione) adalah
suatu larutan yang akan digunakan untuk mendeteksi adanya gugus amina. Apabila pada sampel terdapat gugus amina maka
ninhidrin akan bereaksi menjadi berwarna ungu. Biasanya padatan ninhidirn ini
dilarutkan dalam larutan butanol (Anonim, 2010).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan
Percobaan
Bahan yang
digunakan yaitu eluen (n-butanol : asam asetat : air = 2,5 : 0,6 : 2,6 v/v), larutan ninhidrin
0,2 %, larutan histidin, larutan alanin, larutan serin, larutan sampel, plat
kromatografi, aseton, akuades, tissue
roll, dan isolasi.
3.2 Alat Percobaan
Alat yang digunakan
yaitu chamber, labu semprot, pipa kapiler 0,5 µL, filter, pipet ukur 0,2 mL;
0,5 mL, pipet
volume 1 mL,
gelas ukur 25 mL, mistar, oven, gunting,
pensil.
3.3 Prosedur Percobaan
Dibuat
larutan eluen dengan menggunakan larutan n – butanol, asam asetat, dan air
dengan perbandingan 2,5 : 0,6 : 2,6 v/v. Kemudian dimasukkan eluen ke dalam chamber, dikocok sebentar,
kemudian ditutup dan ditunggu sampai jenuh. Lalu dibuat base line pada plat KLT
yang berukuran 9 cm x 3 cm, dan membuat titik-titik pada base line yaitu
histidin, alanin dan sampel serta membuat garis pada ujung atas absorben
sebagai batas tanda elusi. Ditotolkan histidin pada salah satu titik base line,
demikian juga untuk alanin dan sampel dengan menggunakan pipa kapiler yang
sebelumya telah dicuci dengan aseton kemudian dikeringkan. Jika eluen telah jenuh,
plat KLT dielusi ke dalam chamber dengan hati-hati agar base line tidak
tercelup ke dalam eluen. Elusi dihentikan jika eluen menempuh jarak yang telah
ditentukan sebelumnya. Dikeluarkan absorben dari chamber dan dikeringkan.
Selanjutnya kromatogram disemprot dengan
larutan ninhidrin, kemudian dikeringkan dalam inkubator dengan suhu kurang
lebih 60°C selama setengah jam.Setelah kering diberi tanda pada noda yang
timbul pada kromatogram dengan pensil. Ditentukan nilai Rf dari
masing-masing noda pada kromatogram.
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASN
4.1
Hasil Pengamatan
Percobaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya larutan yang
mengandung asam amino dengan menggunakan teknik kromatografi lapis tipis, yang
melibatkan perhitungan nilai Rf dari masing-masing larutan yang mengandung asam
amino.
Teknik kromatografi
lapis tipis yang digunakan dalam percobaan ini mempunyai kelebihan, yaitu dapat
dilakukan proses identifikasi lebih lanjut, dengan mengeruk silika gel (noda
larutan contoh), kemudian dilanjutkan dengan identifikasi menggunakan teknik
kromatografi kolom.
4.1.1
Tabel Hasil Pengamatan
|
Noda
|
Jarak eluen (cm)
|
Jarak noda (cm)
|
Rf (cm)
|
|
Serin
|
6,5
|
2,3
|
0,35
|
|
Asam Aspartat
|
6,5
|
3,3
|
0,50
|
|
Glisin
|
6,5
|
2,2
|
0,33
|
|
Sampel
|
6,5
|
4,5
|
0,69
|
\
4.1.2 Reaksi
a.

Reaksi Serin dengan ninhidrin

Reaksi Serin dengan ninhidrin
|
||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||
+ 3 H2O
b.
Reaksi
Serin dengan ninhidrin

4.1.3
Pembahasan
Pada percobaan
ini kita menggunakan plat kromatografi berukuran 7.5 x 5 cm. Pada plat kromatografi kita membuat
base line yang digunakan sebagai tempat menotol larutan asam amino dan sampel
yang berjarak 1 cm dari tepi bawah plat kromatografi. Jarak tempuh
eluen pada kertas kromatografi kita buat sepanjang 6,5 cm.
Plat
kromatografi ini adalah fase diam dalam percobaan ini. Prinsip kerjanya memisahkan sampel berdasarkan
perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang
digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang
ingin dipisahkan. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka
sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. Silika sangat
polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan
senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der Waals
dan interaksi dipol-dipol.. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah
alumina-aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga
Dalam percobaan ini, identifikasi asam amino dilakukan
dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Agar diperoleh pemisahan
asam amino yang baik, digunakan tiga fase pelarut, yaitu n-butanol – asam
asetat – aquades yang bertindak sebagai eluen dengan perbandingan volume yang
telah ditentukan sebelumnya. Kesalahan dalam perbandingan volume dapat
mempengaruhi efisiensi pemisahan.
Plat KLT ditotol dengan larutan sampel dan larutan asam amino (serin, glisin, asam aspartat dan fenilalanin). Adapun penggunaan larutan asam amino dalam percobaan ini ialah
sebagai alat pembanding dengan larutan asam amino yang akan diidentifikasi.
Adapun dalam percobaain ini larutan
harus dijenuhkan terlebih dahulu, karena aquades dalam
sistem pelarut merupakan penghambat naiknya pelarut organik pada plat
KLT. Faktor-faktor tersebut menyebabkan waktu elusi yang digunakan sangat lama.
Aquades bertindak sebagai fasa diam, sedangkan pelarut organik bertindak
sebagai fasa gerak.
Pada percobaan ini disiapkan absorben yang kering agar mampu
menyerap noda larutan sampel dengan baik, proses penotolan dilakukan dengan
menggunakan pipa kapiler karena sampel yang akan dianalisis hanya dibutuhkan
sedikit (uji kualitatif) serta dilakukan secara hati-hati dan diusahakan noda
tidak melebar di absorben, teknik double spotting dilakukan agar ketelitian
proses pengukuran Rf dapat ditingkatkan. Eluen yang terdapat di
dalam gelas merupakan campuran dari n-butanol, asam asetat, dan air. Campuran
ini berfungsi agar setiap asam amino dengan gugus yang berbeda dapat
diidentifikasi. Adapun dipilih campuran
dari bahan tersebut karena memiliki perbedaan kepolaran dengan urutan kepolaran
yaitu air > n-butanol > asam asetat. Pada percobaan ini proses elusi
berjalan cukup lambat, proses elusi berakhir (eluen sampai pada end line) kurang
lebih 1 jam. Setelah absorben diangkat dari eluen, kemudian dikeringkan pada
suhu kamar dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin, maka akan muncul dua
warna dominan dalam identifkasi asam amino, yaitu ungu dan jingga yang
merupakan warna senyawa kompleks yang dibentuk oleh larutan asam amino dan
sampel yang diidentifikasi. Untuk memperjelas noda yang terbentuk maka absorben
dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu 80°C, selama 10-15 menit, kemudian
dilakukan proses pengukuran jarak eluen dan jarak noda dari tempat penotolan.
Pada percobaan ini digunakan plat KLT silika bukan
alimina, karena pada plat KLT silika mempunyai sifat nonpolar sedangkan pada
percobaan ini digunakan asam amino yang bersifat polar. Di gunakan silika, agar
dapat diidentifikasi reaksi yang terjadi pada percobaan ini.
Dari percobaan dapat diketahui bahwa
sampel 1 memiliki Rf yang hampir sama dengan alanin, dapat
diambil sebuah hipotesa bahwa sampel 1 adalah fenilalanin atau senyawa asam amino yang mempunyai
gugus fungsi mirip dengan alanin karena selain nilai Rf juga dilihat dari warna
yang ditimbulkan yaitu jingga.
BAB V
SARAN
DAN KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
1.
Dari percobaan yang
telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai Rf untuk asam amino serin yaitu 0,35, asam
amino asam aspartat yaitu 0,50, asam amino glisin yaitu 0,33 dan nilai Rf sampel yaitu 0,69.
2.
Dari percobaan, juga
diketahui bahwa sampel x adalah asam amino fenilalanin karena memiliki nilai Rf
standar yang hampir sama dengan asam amino fenilalanin.
5.2 Saran
Sebaiknya larutan
contoh yang diidentifikasi diperbanyak agar dapat diketahui Rf dari
asam amino selain histidin dan alanin dan juga gunakan teknik identifikasi dan
pemisahan asam amino yang lain. Dan
untuk asisten pertahankan cara mengajarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010, Kromatografi
Lapis Tipis (online), (www. Nv.cc.va.us/alexandria/science/chromatografy.html,
diakses 16 April 2012 pukul 17.00 WITA).
Bresnick, S., 2004, Intisari
Kimia Organik, Hipokrates, Jakarta.
Fessenden, RJ. Dan Fessenden, S., 1986, Kimia Organik, Edisi Ketiga,
diterjemahkan oleh Aloysius Hadyana, Erlangga, Jakarta.
Hart, H., Craine, L. E., dan
Hart, J. D., 2003, Kimia Organik edisi
kesebelas, diterjemahkan oleh Suminar Setiati Achmadi, Erlangga, Jakarta.
Lehninger, A. L., 1995, Dasar-dasar Biokimia jilid I,
diterjemahkan oleh Maggy Thenawidjaya, Erlangga, Jakarta.
Page, D., S., 1998, Prinsip-prinsip
Biokimia, Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi, A., 1994, Dasar-dasar
Biokimia, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Soedjadi, 1988, Metode pemisahan, Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
Yuliati, A., 2005, Identifikasi
epitop dari Streptococcus Mutans Terhadap Sekreyori Imunoglobulin A Saliva, Jurnal Bagian Ilmu Material dan Teknologi
Kedokteran Gigi (online), 3 (Volume 38), halaman 103-107
(journal.unair.ac.id/filterPDF/DENTJ-38-3-01.pdf, diakses pada tanggal 16 April
2012 puku; 20.00 WITA.)
LEMBAR PENGESAHAN
Makassar, 18 April 2012
ASISTEN
PRAKTIKAN
ASMAN KUMIK ISMIYATI
H YUSUF





Bet on sports at JSTOR - JTG Hub
BalasHapusBetting 통영 출장마사지 on sports หาเงินออนไลน์ at JSTOR 군산 출장마사지 is convenient to the JSTOR 경기도 출장샵 Sportsbook at JSTOR. 전라북도 출장샵 Click here to see all your favorite sports, including basketball,